Filosofi Kopi Tembus

Box Office Indonesia.

Kompas.com - 20/04/2015, 20:49 WIB 

Foto: Dok. Visinema Pictures  (Twitter @ filkopmovie )

JAKARTA, KOMPAS.com — Film Filosofi Kopi karya sutradara muda Angga Dwimas Sasongko (30) berhasil menembus box office Indonesia dalam 12 hari penayangan. Menurut Angga, ini adalah bukti kembalinya kepercayaan masyarakat terhadap film Indonesia.

 

Berdasarkan data filmindonesia.or.id, per Senin (20/4/2015), Filosofi Kopi berada di posisi keempat box office Indonesia dengan jumlah penonton mencapai 158.517. Di posisi ketiga diduduki film CJR The Movie: Lawan Rasa Takutmu dengan 170.504 penonton. Sementara di peringkat kedua dan pertama berturut-turut ada film Kapan Kawin dengan perolehan penonton sebanyak 185.285, dan 648.909 penonton untuk film Dibalik 98.

 

"(Filosofi Kopi) Terbukti jadi salah satu film yang paling banyak ditonton. Ini usaha gimana membangun kepercayaan terhadap film Indonesia," kata Angga mengomentari prestasi yang dicapai film adaptasi novel karya Dewi Lestari tersebut, dalam wawancara di Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Senin (20/4/2015).

 

Angga berujar, selama ini banyak anggota masyarakat pesimistis dengan film-film karya anak bangsa. Sebaliknya, menurut dia, orang-orang sengaja datang ke bioskop untuk menonton film luar negeri. Sementara untuk film Indonesia, mereka lebih memilih menontonnya lewat CD bajakan atau menunggu tayang di televisi.

 

"Padahal, seharusnya film Indonesia menjadi raja di negeri sendiri," tekan pria yang pernah masuk dalam nominasi Sutradara Terbaik FFI 2010.

 

Angga mengungkapkan, salah satu alasan hadirnya Filosofi Kopi adalah untuk membuat film karya anak bangsa patut ditonton di bioskop. "Kami memang lagi dalam tahap membangun citra untuk film Indonesia untuk jadi karya yang worth it (layak) ditonton di bioskop. Itu semangat Filosofi Kopi," ucapnya.

 

Penulis : Andi Muttya Keteng Pangerang

Perdana Main Monolog, Chicco Jerikho Langsung Perankan 6 Karakter Berbeda


Tia Agnes - detikHot

Selasa, 21 Sep 2021 09:05 WIB

chicco-jerikho-dalam-monolog-amir-akhir-sebuah-syair_43.jpeg

Chicco Jerikho dalam monolog Di Tepi Sejarah Foto: Titimangsa Foundation

Jakarta - Aktor Chicco Jerikho jadi salah satu pemain yang berkolaborasi dalam seri monolog Di Tepi Sejarah. Berperan dalam monolog berjudul Amir, Akhir Sebuah Syair, pemain Filosofi Kopi itu tak tanggung-tanggung memerankannya.

Bukan satu atau dua karakter saja, namun Chicco Jerikho sekaligus berperan dalam enam karakter.

 

Chicco Jerikho menceritakan awalnya ada tiga karakter yang diperankan tapi sejalannya waktu menjadi enam karakter. "Awalnya ada 3 karakter, Amir Hamzah, seorang misterius, dan Ijang Widjaja. Tapi karakter bertambah, misalnya Ijang dibagi dua saat depresi dan masih normal," tutur Chicco saat jumpa pers virtual, Senin (20/9/2021).

 

Begitu juga dengan Amir Hamzah saat masih hidup dan Amir sebagai arwah. Untuk karakter orang misterius, Chicco pun harus menjadi peran sebagai bangsawan dan rakyat. "Ini proses pembelajaran yang luar biasa, saat awal terima skrip, naskah bagus banget tapi aku bingung gimana cara hapalinnya. Baca 3 hari nggak masuk-masuk ke kepala, sampai pikir saya kayaknya nggak mampu," tutur Chicco.

 

Tak hanya harus menghapal dialog saja, namun Chicco juga harus membawakannya dengan penuh rasa.

 

"Dalam proses ini aku dibantu oleh sutradara Heliana Sinaga yang juga cara menghapalnya sama seperti Laura Basuki. Saat datang pertemuan pertama, saya belum hapal sama sekali," katanya tertawa.

Monolog terakhir Amir, Akhir Sebuah Syair tentang Amir Hamzah (Chicco Jerikho) yang hidup di masa revolusi sosial di Indonesia. Di akhir hidupnya, ia dipancung oleh seorang algojo bernama Ijang Widjaja, yang merupakan guru silat Amir di masa kanak-kanak.

 

Ijang dipenjara akibat keterlibatannya sebagai algojo. Tapi ia dibebaskan setelah menjalani beberapa tahun hukuman dan menjadi gila lantaran tak mampu menanggung rasa bersalah yang terus menghantuinya.

 

Selain monolog Amir, Akhir Sebuah Syair, seri monolog Di Tepi Sejarah juga mengangkat tiga tokoh lainnya yang berada di tepian sejarah bangsa. Mereka adalah Muriel Stuart Walker atau Kentut Tanri (diperankan Chelsea Islan), Riwu Ga (Arswendy Bening Swara), dan The Sin Nio (Laura Basuki).

 

Penulis : Tia Agnes

Film 'YUNI' Karya Kamila Andini

Menang di TIFF 2021

CNN Indonesia | Minggu, 19/09/2021 10:24 WIB

013300300_1632024480-E_mo8lQXMAgfHtq.jpg

FILM YUNI KARYA KAMILA ANDINI. (FOURCOLORS FILM /STARVISION PLUS VIA TWITTER @TIFF_NET

Jakarta, CNN Indonesia - Film 'YUNI' karya sutradara Kamila Andini meraih penghargaan Platform Prize Toronto International Film Festival 2021 pada Minggu (19/9).

Melalui akun Instagram resmi festival @tiff_net, juri mengatakan mereka tersentuh dengan film yang memberikan perspektif baru dan intim dari kisah remaja yang ditandai dengan struktur subtil, framing halus dan sinematografi luar biasa.

 

Kamila Andini dalam pidato kemenangan saat menerima Platform Prize Toronto International Film Festival 2021, dikutip dari Instagram sang suami dan produser Ifa Isfansyah, mengatakan, "Saya ingat ketika pertama kali saya di sini membawa film pendek tahun 2015. Dan ini tahun ketiga membawa film ke dalam sinema dan TIFF, jadi rasanya tak bisa dipercaya."

 

"Saya sulit mempercayainya. Tapi saya kira saya melihat ini sebagai harapan. Ini untuk suara-suara perempuan di Indonesia yang belum didengar. Ini untuk setiap perempuan di Indonesia dan dunia yang telah berjuang, bertarung bertahun-tahun, menemukan, berusaha menemukan kebebasan mereka," kata Kamila.

 

Dia juga berterima kasih kepada semua kru, pemeran, produser, rekan dan semua orang yang mendukungnya untuk terus mendobrak batasan. "Ini bukan cuma kemenangan Indonesia, ini kemenangan Asia Tenggara. Terima kasih!" lanjutnya,

 

Film “YUNI” berkisah tenatang Yuni, seorang gadis remaja cerdas dengan impian besar untuk kuliah. Ketika dua pria yang hampir tidak dikenalnya datang melamar, ia menolak lamaran mereka. Penolakan itu memicu gosip tentang mitos bahwa seorang perempuan yang menolak tiga lamaran tidak akan pernah menikah.

 

Tekanan semakin meningkat ketika pria ketiga melamarnya, dan Yuni harus memilih antara mempercayai mitos atau mengejar impiannya.

 

Film 'YUNI' diperankan oleh Arawinda Kirana, Kevin Ardilova, Dimas Aditya, Marissa Anita, Asmara Abigail, Muhammad Khan, Nazla Thoyib, Neneng Risma, Vania Aurell, Boah Sartika, Anne Yasmin, Toto ST. Radik, Mian Tiara, Ayu Laksmi, dan Sekar Sari.

 

Film tentang pernikahan remaja ini terinspirasi dari cerita asisten rumah tangga Kamila Andini yang pamit pulang kampung karena harus menemani anaknya yang baru berusia 17 tahun melahirkan, dan juga cerita perempuan yang ia pernah dengar lainnya.

 

Skenario ditulis oleh Kamila bersama Prima Rusdi, diproduseri oleh Ifa Isfansyah, dan diproduksi oleh Fourcolours Films bekerja sama dengan Akanga Film Asia (Singapura), Manny Films (Perancis), dengan dukungan pendanaan dari Aide Aux Cinémas Du Monde CNC Perancis, Infocomm Media Development Authority Singapura, Visions Sud Est Swiss, Program Pendukungan Film Indonesia untuk Distribusi Internasional Direktorat PMMB Kemendikbud Ristek Republik Indonesia, MPA APSA Academy Film Fund Australia, dan Purin Pictures Thailand.

 

Persiapan film ini telah dimulai sejak tahun 2017 dan pengambilan gambarnya rampung pada awal tahun 2020 di Serang, Banten, tidak lama sebelum pandemi COVID-19 terjadi.

 

Menurut Kamila, judul film ini terinspirasi dari salah satu puisi terkenal karya Sapardi Djoko Damono berjudul 'Hujan di Bulan Juni', hujan yang jatuh di musim yang tidak tepat.

 

"Saya membangun karakter Yuni sebagai seorang remaja yang dipaksa untuk dewasa tidak pada waktunya. Seorang remaja yang penuh mimpi, dengan media sosial saat ini yang menunjukkan dunia ada di genggamannya, tetapi yang harus dipikirkannya adalah menghadapi lamaran dan menikah," ujar Kamila dalam keterangan persnya.

 

“YUNI' adalah film ketiga Kamila Andini yang berkompetisi di TIFF setelah film pendeknya berjudul 'Sendiri Diana Sendiri (Following Diana)' berkompetisi di program Short Cuts pada tahun 2015 dan film panjang keduanya yang berjudul 'Sekala Niskala (The Seen and Unseen)' di program Platform pada tahun 2017.

 

Penulis : CNN Indonesia

5 Fakta Yuni, Film Indonesia yang Menang di Festival Film Internasional Toronto 2021

Ruly Riantrisnanto19 Sep 2021, 15:00 WIB

063283200_1631721226-YUNI_-_film_by_Kamila_Andini_-_Still_2.jpg

Adegan film Yuni (Fourcolours Films / Starvision Plus)

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia kembali diharumkan oleh sineas dari negeri sendiri. Kali ini, sutradara Kamila Andini mendulang prestasi dengan film terbarunya, Yuni.

Film Yuni berhasil menjadi pemenang dalam Platform Prize di Toronto International Film Festival 2021, bersaing dengan sejumlah film internasional lainnya.

 

 

Tak tanggung-tanggung, pengumuman pemenang ini disampaikan oleh aktor kondang Hollywood yang sempat tampil dalam film Venom, Riz Ahmed

Sejumlah Fakta

Dari pengumuman ini, tersimpan sejumlah fakta menarik yang meyelimuti film Yuni dan kemenangannya. Apa saja itu? Berikut deretannya.

1. Dibintangi Arawinda Kirana

088878500_1624872514-arawinda-2.jpg

ARAWINDA KIRANA (FOTO: INSTAGRAM INDONESIA_KAYA)

Film Yuni dibintangi oleh Arawinda Kirana, aktris muda yang memiliki latar belakang di dunia teater dan tari sejak kecil. Arawinda Kirana sudah tampil di film antologi Quarantine Tales dan film pendek X&Y.

2. Bahasa Sunda dan Jawa Banten

013300300_1632024480-E_mo8lQXMAgfHtq.jpg

FILM YUNI KARYA KAMILA ANDINI. (FOURCOLORS FILM /STARVISION PLUS VIA TWITTER @TIFF_NET

Sutradara Kamila Andini memilih bahasa Jawa Banten dan Sunda Banten untuk dialog film Yuni lantaran hampir tidak adanya film panjang Indonesia dengan bahasa daerah Banten.

3. Ditunjuk Langsung Oleh Riz Ahmed

071022600_1524638505-venom.jpg

Carlton Drake (Riz Ahmed) dan Eddie Brock (Tom Hardy) dalam film Venom (YouTube/ Sony Pictures Entertainment)

Riz Ahmed tak hanya mengumumkan kemenangan film Yuni. Aktor Sound of Metal ini juga menyampaikan bahwa ia memilih sendiri judul film yang dianggap layak menyabet Platform Prize.

4. Sempat Berlaga di Busan International Film Festival

Yuni tak hanya berlaga di Toronto International Film Festival, namun juga sempat berlaga di Busan International Film Festival (BIFF) bersama dua film lain, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas; dan film pendek Laut Memanggilku.

5. Film Ketiga Kamila Andini di TIFF

Dalam pidato kemenangannya tahun ini, Kamila Andini menyebutkan bahwa Yuni merupakan film ketiganya berlaga di TIFF.

"Aku ingat pertama kali di TIFF pada 2015 bersama film pendek saya. Dan sekarang saya kembali ke sini untuk ketiga kalinya menghadirkan pahlawan wanita di sinema dan TIFF, lewat film ketiga saya," ujar Kamila dalam pidato kemenangannya.

Penulis : Ruly Riantrisnanto